Sunday, February 7, 2010

Facebook itulah situs jejaring sosial yang sekarang sedang ramai diperbincangkan. Tidak terkecuali bagi Kana, gadis kelas sepuluh SMA Pekerti Luhur yang baru mengenal facebook dua bulan belakangan. Sejak itu Kana seperti terikat dengan facebook.
“online terus Kan.” Sapa Aribi teman dekat Kana yang menghampirinya sembari menggeser bangku agar ia dapat duduk disebelah Kana.
“eh, elu bi, bikin kaget aja.” Sekilas Kana melihat temannya itu lalu kembali menatap ke layar komputernya.
“haha, loe piker gue penghuni tetap lab komputer ini ?” balas Aribi yang kemudian melihat layar computer dan memperhatikan tingkah temannya itu.
“coba gue liat FB lu , cekcek, temen lu udah lebih 400 ya ? cepet juga, gue yang buat lebih dulu aja baru 200. komentar Aribi.
“makanya rajin-rajin online dong !” cetus Kana.
“malas gue, gue lebih suka temenan sama manusia nyata yang gue temuin langsung daripada sama orang di facebook.” Tiba-tiba Aribi melihat jam ditangannya , “sudah setengah empat ! gue musti cepet-cepet pulang, ada les piano, lo ga pulang Kan ?” Tanya Aribi.
“bentar aja, sejaman lagi, gue masih mau masukin foto-foto baru.”
“yaudah gue duluan ya ? hati-hati ketemu makhluk gak nyata di Lab ini ! hiiiii .” pamit Aribi sekaligus menakut-nakuti Kana. Kemudian ia mengangkat kursinya dan mengembalikannya ke tempat semula.
“yok.” Balas Kana sekenanya .
Kini tinggal Kana seorang diri yang masih tetap tinggal di Laboratorium Komputer Sekolah. Sepi dan menyeramkan suasana yang tergambar di ruang tersebut. tapi Kana tidak memperhatikannya , ia seperti larut terbawa dunia mayanya. Tiba-tiba terbesit dibenaknya untuk mencari account yang sama dengan nama dirinya. ‘Kana’ itu yang ia ketik di kolom search friend. Ditemukan 526 kecocokan. Di halaman pertama tidak ada yang menarik hatinya, hingga akhirnya di Halaman ketiga tergubris pikirannya untuk mengetahui sebuah account yang dianggapnya menarik dengan nama Kana Aprilio Zebusta. Foto seorang laki-laki dengan background yang serba gelap, tetapi masih dapat terbaca bahwa lelaki itu sedang berada disalah-satu sudut ruang di bangunan tua tak terurus yang mungkin umurnya sudah ratusan tahun tetapi memiliki nilai estetika tinggi, tamapk jelas sebuah seni tergambar disana. Wajahnya tampak tak begitu jelas, buram, tapi tidak begitu yang dilihat Kana, rupanya begitu jelas, sangat jelas bahkan. Wajah dan tubuhnya tampak begitu bersinar, dan Kana pun merasakan sesuatu yang tak seperti biasa. Dengan wajahnya yang rupawan tak perlu berfikir lagi bagi Kana untuk merequest laki-laki itu sebagai temannya. Setelah itu Kana, menutup accountnya dan bergegas pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 17.00 ia takut karna pintu gerbang akan segera ditutup.
*****
“Belum pulang neng ?” Sapa mang Tono penjaga sekolah yang akan segera menutup pintu gerbangnya.
“iya mang, ini juga baru mau pulang. Untung belum mang tutup gerbangnya. Hhee. Cekik Kana.
“iya neng, telat dikit aja mang udah tutup, mang udah mau pulang. Kirain udah pada pulang semua neng emang neng Kana ngapain tadi?.”
“iya mang, Kana aja yang belum pulang, tadi habis main komputer. Kana pulang dulu ya mang.” Pamit Kana sambil melambaikan tangan dan meninggalkan mang Tono seorang diri.
Kana pulang dengan senang riang seperti biasanya, dikarenakan jarak dari rumahnya kesekolah tidak sampai 1km, ia lebih memilih bersekolah dengan jalan kaki. Dengan melihat keadaan sekitar yang menyenangkan, Kana mengarahkan pandanganya ke berbagai sudut. Disatu sisi tampak beberapa bocah lelaki sedang asyik bermain kelerang. Disisi lain, gadis-gadis kecil pun bermain lompat tali. Lalu Kana melewati sebuah sekolah, SMA Kusuma Bangsa namanya, sekilas ia melihat tampak sepi, tak mengubrisnya, kemudian melanjutkan kembali perjalanannya. Sambil berjalan, ia pun tersenyum-senyum sendiri membayangkan dapat dekat dengan Kana Aprilio tadi hingga tanpa sadar ia telah sampai didepan rumahnya yang tengah disambut oleh mamanya tersayang .
“eh, anak mama yang paling cantik baru pulang, ngapain atuh jalan kok seyum-senyum sendiri, untung ga salah masuk rumah tetangga. Bisa repot nanti urusannya” kata Ibu Hesti sembari menyirami kebun bunganya, Ibu yang sudah hampir memasuki usia 40th tetapi masih tampak muda dan cantik dengan balutan jilbab biru mudanya.
Seolah sadar dari lamunanya Kana berkata “eh, oh, iya mah, hhe, siapa yang senyum-senyum, Kana masuk dulu ya mah, cape”. Tangkis Kana.
Bu Hesti hanya bisa menggelang-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri semata wayangnya itu.
Setibanya dikamar, Kana bergegas untuk mandi, dan tak memikirkannya lagi apa yang telah terjadi.
******
23.55 waktu yang ditujukan oleh handphone Kana. Tetapi Kana masih terjaga, entah mengapa Kana tidak bisa tidur malam ini, tidak seperti biasanya yang selalu tidur setelah sholat isya. Iseng-iseng Kana membuka account facebooknya melalui handphonenya. Terdapat lima pemberitahuan, salah satunya adalah permintaan pertemanannya dengan Kana Apriliano Zebusta telah diterima. Langsung saja Kana membuka account tersebut dan menulis sesuatu di dindingnya,
‘terimakasih ya, sudah nerima permintaan Kana, hihi, lucu ya, nama kamu juga Kana. Kamu sekolah dimana ?’
setelah mengirimkan pesan tersebut perasaan Kana menjadi harap-harap cemas menunggu balasannya. Ia pun memperhatikan account milik Kana Aprilio tersebut untuk mencari berbagai informasi. Dan Kanapun mendapatkannya . Nama, Kana Aprilio Zebusta tempat tanggal lahir Jakarta 20 April 1994 hobi, main basket, main gitar. Sekolah, SMA Kusuma Bangsa Jaksel.
“hah??” reflek Kana terkejut . “ternyata skolah di Kusuma Bangsa, sekolah tetangga dong. Ini kan 1April, bulan ini dia ultah.” Facebook dikembalikan ke halaman utama, Kana berharap sudah ada pemberitahuan dari Kana yang membalas pesannya. Kana pun kecewa, harapan itu kosong, tetapi, Kana melihat status terbaru dari Kana Aprilio yang di tulis setengah menit yang lalu. ‘lebih baik hidup atau mati daripada seperti ini.’ Kana pun penasaran, ingin rasanya ia mengomentarinya tetapi tak berani ia lakukan. Segera ia mengeluarkan sambungan facebook dari handphonenya dan beranjak tidur.
******

“Pagiiiiii…” sapa Bu Hesti dengan semangat kepada putrinya yang sedang menyantap sarapan roti tawarnya.
“Pagi mah” . balas Kana.
“Hari ini kamu pulang jam berapa sayang ? jangan lama-lama ya, jangan kaya kemaren. Usahain jam 4 kamu sudah sampai di rumah, temenin mama ke supermarket trus ke rumah nenek deh.”
“iya deh ma, Kana usahain. Kana pergi skolah dulu ya mah.”
“jalan kaki lagi?” Tanya Bu Hesti yang dibalas Kana hanya dengan tersenyum.
Hari ini dilalui Kana seperti biasanya, pergi sekolah, jalan kaki, menikmati sejuknya udara pagi, melewati SMA kusuma bangsa, tiba disekolah, belajar seperti biasa dan bermain Komputer di Lab Komputer sepulang sekolah. Ia melihat jam ditangannya , “masih jam 3”, sempet main 1jam benaknya. Kana lalu mengambil kursi , merebahkan pantatnya dan meyalakan Komputer. Deeerrrtt… hp Kana bergetar. Sebuah pesan baru, mama. Cuma mengingatkan supaya tidak pulang telat. Kana lalu meletakkan hpnya disebelah speaker Komputer. Dan ia kembali larut dalam dunianya. Hingga ia tersadar ketika melihat waktu yang ditunjukan di dinding ruangan itu, sudah hampir jam 4, ia langsung bergegas mematikan komputer dan meninggalkan ruangan itu .
Tidak seperti biasanya yang ia dapat pulang dengan santai sambil melamun, sekarang ini ia harus berjalan cepat atau bahkan berlari, karna ia tahu mamanya telah menunggunya. Dengan ngos-ngosan akhirnya ia tiba didepan rumahnya. Tampak mamahnya yang sudah siap untuk pergi.
“aduh, kamu kemana aja sih sayang? Waktu kita padat.”
“Maaf ma, Kana mandi dulu ya .”
“ee.. ga usah, kita langsung pergi sekarang.” Elak mama.
“pake seragam sekolah mah?”
“mama sudah nyiapin baju km di mobil . ayo naik.” Suruh Bu Hesti yang sudah akan menjalankan grand livinanya. Kana pun masuk kedalam mobilnya. “emang kita mau kemana sih ma?” Tanya Kana penasaran .
“Kita ke supermarket dulu, beli bahan-bahan untuk masak, trus kita kerumah nenek, kita ada acara makan-makan , sama sodara-sodara yang lainnya juga.”
“loh, kok mendadak gini sih ma?”
“eh, kamu lupa ya? Hari ini kan ulang tahunnya nenek kamu, dan lagi malam ini kan malam minggu, kamu ga akan sekolah kan besoknya?” Tanya mama menyadarkan anaknya.
“oh, iya ya mah,” Kana pun tersadar dan mengikuti semua yang dilakukan mamahnya.
*****

Acara yang melelahkan nan menyenangkan pun akhirnya selesai. Kana dan mamanya sedang berada di perjalanan menuju rumah mereka. Tetapi, Kana seperti merasakan sebuah keganjalan. Ia lalu mengobrak-abrik tasnya dan sontak mengatakan “handphone gue !”
“kenapa Kan?” Bu Hesti tampak terkejut mendengar putrinya berteriak.
“Handphone Kana ga ada mah. Kana berfikir sejenak, “kayanya ketinggalan disekolah deh ma, kita mampir sekolah sebentar yah ma?”
“aduh, ini kan sudah malam Kan, ga bisa besok aja apa ?”
“ga bisa mah, ayolah ma, ini pentig, kan kita juga ngelewatin skolahaan mah, yah, yah ?” bujuk Kana.
Ibu Hesti tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti keinginan anak tersayangnya ini.
Mobilpun berhenti tepat didepan gerbang. Kana lalu mengeluarkan senter yang tersedia di bagasinya. Dan kemudian bergegas masuk ke sekolah .
“mama tunggu disini ya sayang, jangan lama-lama” triak mamanya yang diikuti kepergian Kana.
Pintu gerbang terkunci, tentu saja, Kana pun berlari kea rah samping sekolah, ia tahu disitu ada jalan masuk sekolahnya yang tidak mungkin dikunci. Tentu saja, karena itu sebuah tembok yang bolong, entah kenapa bisa bolong. Mungkin hanya ulah anak-anak iseng. Tembok itu belum sempat di perbaiki, mungkin karena baru saja bolongnya. Kana pun terus berlari menuju lantai 2, tempat lab computer berada, dengan senternya, ia menyusuri lorong-lorong sekolahnya. Akhirnya tiba di lab computer, dan dia baru tersadar, seharusnya seluruh ruangan disini, sudah terkunci oleh mang Tono. Tetapi, ketika ia mencoba membukanya, terbuka. Apa mungkin mang Tono terlewatkan untuk menguncinya? Pikir Kana. Sudahlah, ia menyalakan lampu dan segera menuju computer yang biasa ia gunakan, dan meraih, handphonenya. Tapi keanehan terasa sekali. Komputer yang tadi Kana gunakan menyala, dan masih menampilkan halaman utama facebook Kana, padahal Kana sangat yakin telah mengeluarkan accountnya dan mematikan computer. Tetapi disitu telah ada satu pesan chatting dari Kana Apriilio, kana pun tertarik kemudian duduk di depan layer monitornya. Kana Aprilio menulis, ‘senang bisa bertemu denganmu disini. Kana pun tak kuasa menahan diri untuk membalasnya.
‘me too   , lo anak kusuma ya ? sekolah kita deketan loh ! hihi.’ 15detik Kana menunggu balasannya terasa seperti 1jam.Akhirnya balasan itu tiba. ‘mungkin akan menyenangkan bila saya bisa mengenal anda’. Kana terus saja tersipu malu, mungkin ini yang ia nanti-nati selama ini. Ia sendiri tidak mengenal siapa laki-laki itu, tapi Kana merasakan sesuatu yang nyaman. Tiba-tiba… DEEEERRRRTTTT . hp Kana bergetar. “mama ! benaknya, halo ?”
“kana kamu ngapain sih sayang ? lama banget, setengah jam mama disini, mama ngantuk. Kamu ga kenapa-kenapa kan ? cepet kesini !.” terdengar jelas nada kekhawatiran keluar dari wanita cantik itu.
“iya ma, Kana keluar sekarang.”
Kana pun bergegas, pesan terakhir dalam chattingnya Kana menuliskan no hpnya disitu dengan setengah sadar. Ia segera menutup accountnya dan mematikan komputernya. Kali ini dia memastikan komputernya benar-benar dalam keadaan mati. Dan keluar dari ruangan itu secepatnya. Sementara itu, tanpa ia sadari, sejak tadi, ada sesosok bayangan gelap yang memperhatikannya di balik jendela laboratorium yang gelap.
Angin kencang membuat Bu Hesti semakin takut, bukan takut karena hal mistis, tapi karena takut akan masuk angin dan tidak dapat masuk kerja dikeesokan harinya. Tak lama akhirnya Kana pun dating dan Bu Hesti langsung tancap gas.
Jam weker telah menunjukan sudut 180derajat . itu berarti pukul setengah duabelas malam. Kana masih terjaga, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan ? memberikan nomor handphone kepada lelaki yang belum dikenal ? tentu saja bukan suatu kebiasaannya. Terlebih lagi melalui facebook? Bagaimana mungkin dia dapat berbuat demikian? Dia juga tahu istilah, jangan mudah mempercayai orang yang berada di dunia maya. Lalu pikirannya beralih, apakah Kana akan mengsmsnya? lama setelah memikirkannya, handphone Kana pun berbunyi, tanda sms masuk, tak sabar ia membukanya dan berharap Kana yang sms. Benar saja. Pesan tertulis seperti ‘hai, Kana, ini Kana Aprilio Zebusta. Harapan itu menjadi nyata, membuat Kana berjingkrak-jingkrak kegirangan di kasurnya. Untung saja Bu Hesti sudah tertidur lelap karena kecapean tidak mungkin dia akan mendengar kehebohan anaknya ini. Kana dan Kana pun akhirnya semakin dekat dengan SMS. Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling mengenal satu sama lain, seperti memiliki sebuah ikatan batin yang kuat dan Kana merasa nyaman saat berbincang dengan teman barunya tersebut.


























Senin pagi, hujan deras mengguyur Jakarta, langit mendung, kilat, petir dan guntur seolah berlomba-lomba menunjukan kekuasaannya. Hal ini membuat Kana tidak dapat pergi ke sekolah dengan berjalan kaki seperti biasanya. Kana mau tidak mau harus pergi ke sekolah dengan mengendarai mobilnya sendiri. Honda jazz merah yang telah Bu Hesti belikan beberapa bulan lalu jarang Kana gunakan dan hanya menjadi penghias garasi rumah Kana. Tibalah ia disekolah. Dan orang pertama yang ia temui didepan gerbang ialah mang Tono. Mang Tono begitu rajin menjaga, merawat dan membersihkan sekolah ini, meski hujan deras mengguyurpun ia tetap kekeh dengan membanggakan mantel hujan sebagai perlindungannya. Menurut cerita, mang tono sudah 20tahun mengabdi untuk Pekerti Luhur, sejak usianya 30tahun dan cocok dipanggil mang. Tapi kini, setelah usianya menginjak 60tahun, beliau tetap terus ingin dipanggil mang. Biar lebih akrab katanya. Selesai memarkirkan mobilnya, Kana keluar dibawah teduhan paying bunga berwarna merah muda. Ia lalu menghampiri mang Tono.
“udah mang, istirahat aja dulu, hujannya masih deres, petir dan kilatnya juga bikin takut mang. Ayo.” Ajak Kana untuk menyudahi pekerjaan mang Tono.
“ini memang sudah tugas mang Tono neng, walau apapun yang terjadi, mang Tono harus bertanggung jawab, hahaha,”jawabnya dengan semangat.
“Iya mang, tapi ini kan lagi hujan. Nanti mang Tono malah sakit, ga bisa kerja lagi besok-besoknya,” ajak Kana setengah memaksa lalu membawa mang Tono ke Area sekolah yang teduh. Mang Tono pun tak dapat mengelak lagi.
“sudah, mang istirahat aja dulu ya, jangan hujan-hujanan lagi, ini buat mang.” Kana lalu mengeluarkan bekal makanannya yang telah disiapkan mamanya untuknya.
“hehe, iya neng Kana cantik, makasih ya.” Mang Tono tak tahan menahan gelinya. Baru kali ini ia bertemu gadis seperti Kana, yang baik dan peduli terhadap siapa saja. Selalu rendah hati dan tidak sombong walaupun ia berasal dari keluarga yang kaya raya.
“ya udah, Kana ke kelas dulu ya mang”.
“eh, tunggu sebentar neng,” tahan mang Tono sebelum Kana hendak meninggalkannya, sentak membuat Kana terhenti dan berbalik badan.
“iya, ada apa mang?”
“kemaren malem, pas malam minggu, neng Kana ada kesekolah ini ya?
“loh, mang kok tau?” kana tampak heran.
“kadang-kadang kalau malam , mang Tono suka kesekolah neng, Cuma buat memastikan saja.”
“oh, tau gitu kan Kana bisa minta tolong mang Tono aja buat bukain gerbang depan. Jadi Kana ga perlu repot-repot ke samping sekolah.”
“jadi non kana lewat tembok samping sekolah yang setengah hancur itu non?” Tanya mang Tono dengan lantang karena saking terkejutnya.
“lah, iya mang, emang kenapa?”
Sadar tak seharusnya menceritakan itu, mang Tono diam. “neng, mang Tono saranin, atau bahkan perintahin, neng jangan lagi ke sekolah malam-malam.” Kata mang Tono dengan lantang.
“Kana pun terdiam, tak bisa berkata-kata kecuali mengucapkan, “Iya”. Baru ini mang Tono setegas itu pikirnya. Sempat penasaran ada apakah sebenarnya ? hanya beberapa menit kana merasa penasaran, kemudian tak menggubrisnya lagi. Mungkin itu hanya omongan orang tua yang menakut-nakuti anak-anak agar tidak berkeliaran malam hari, dan gue bukan anak kecil lagi. Itulah yang ada dibenaknya. Pelajaran pertama adalah computer. Inilah yang paling Kana sukai.
“gimana loe, sudah dapet kecengan ganteng di facebook?” aribi membuka pembicaraan.
“eh. Lah” Kana tersadar dari lamunanya. “Maksud looee ?? apaan sih? Tau darimana emang lo?”
“tuh kan, haha, Ribi gitu . apalagi coba penyebab lo jadi aneh sekarang ini?”
“aneh?” Tanya kana tak mengerti.
“iya, lo sadar ga sih ? loe tuh skarang aneh, suka ngelamun, suka senyum-senyum sendiri, suka ngomong sendiri. Ih, gue aja jadi takut sendiri . hahaha,” aribi tertawa puas.
“sialan loe !”
“Kan, emang siapa siih?”
Kana diam, tangannya mengarahkan krusor mouse lalu mengetikan sebuah nama pada keyboard Kana Aprilio Zebusta. “loh??”
“‘kenapa kan ?” Tanya Aribi.
“gue mau ngasih liat ke elo cowo itu, temen fb gue, Kana Aprilio Zebusta namanya. Tapi kok ga ada sih? Apa dia ganti nama ya ?”
“heemm, entahlah, mungkin saja, siapa tadi namanya ? Kana Aprilio Zebusta ? nama yang tidak asing. Gue kaya sering denger dimana gitu ya? Lupa gue” kata Aribi.
“oh ya ? walah, paling loenya aja yang sok tau .oh, iya, gue baru inget, gue udah simpen fotonya di handphone gue kok.” Kana lalu memeriksa saku bajunya, tidak ada, saku roknya tidak ada juga, lalu mengobrak-abrik tasnya, kemudian ia pun tersadar. “oh iya, kayanya gue ga bawa hp deh, tadi ketinggalan di meja belajar.”
“emang penyakit lupa loe ga sembuh-sembuh kan.”
“hehehe,” Kana nyengir. “ntar gue mms dah, biar loe cepet-cepet tau kegantengannya !” Tanpa sengaja Kana melihat ke arah jendela laboratorium computer.
“Kayanya ga perlu gue mms deh, tu orangnya disana !” tunjuk Kana. Aribi pun membalikkan pandangannya mencoba mencaritahu apa yang dimaksud temannya itu, tapi ia pun tak menangkap apapun.
“apaan Kan ?” Tanya Aribi bingung.
“Yah, dia sudah pergi tuh. Padahal tadi dia ngintip di jendela”.
Antara bingung dan terkejut Arimbi memikirkan tingkah laku temannya yang semakin tidak masuk akal ini. ‘Mana mungkin bisa, ada orang yang mengintip dijendela, sedangkan ini kan lantai dua . Dan lagi disitu kan ga ada jalan kecil untuk orang berpijak.’ Pikir Aribi. Tapi ia tak mengatakannya kepada Kana, mungkin itu hanya Karna Kana sedang dimabuk asmara, pikirnya.
*****

Sesampainya dirumah Kana langsung menuju kamarnya, diraihlah handphone yang ternyata tergeletak diatas meja riasnya. Kemudian langsung mencari foto yang telah dijanjikannya kepada Aribi, setelah menemukannya, langsung saja, Kana menekan option sending picture message, dan menunjuk no hp Aribi sebagai tujuannya.

*****

Aribi melihat layar handphonenya, ‘pasti foto dari Kana’ gumannya, dengan tak sabar Aribi membuka mmsnya, dan keganjalan terasa kembali oleh Aribi. Perasaannya benar-benar tidak enak kali ini . yang tampak di handphonenya hanyalah gambar sebuah bangunan. Tampak tak asing baginya, Aribi berusaha keras berfikir dimanakah ia mengenal tempat tersebut . “ini kan tempat yang pernah gue datengin sama yoshua, dibelakang SMA Kusuma Bangsa. Bangunan kuno yang konon katanya bersejarah dari jaman penjajahan Belanda.” Untuk membasmi penasarannya selama ini langsung saja ia mencari nomor handphone yoshua di contack listnya. Yoshua ialah sepupu Aribi yang bersekolah di Kusuma Bangsa. Beberapa bulan yang lalu yoshua pernah mengajak Aribi ke tempat-tempat etnik di Jakarta, dan tempat terakhir yang mereka kunjungi ternyata berada di belakang SMA Kusuma Bangsa. Tidak terlalu dekat memang, membutuhkan waktu sekitar 20menit untuk tiba disana dengan berjalan kaki. Oleh karna itu tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan bangunan yang dikelilingi hutan tersebut. Dua kali sudah Aribi mencoba menghubungi Yoshua, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya Aribi menyerah dan berniat menemui yoshua sepulang sekolah di Kusuma Bangsa.

*****
Esoknya, Aribi dan Kana bersekolah seperti biasanya, Aribi ingin menanyakan segala keanehan yang mengganjal di hati dan pikirannya, tetapi, ketika ia telah melihat Kana, seketika itu pula lidahnya seakan pilu dan tidak dapat berkata apapun dan pikirannya seakan dikontrol oleh remote yang dikuasai oleh makhluk luar angkasa. Sehingga, ia lupa untuk menanyakan keanehan tersebut.
Pulang sekolah Aribi tampak terburu-buru, ia akan segera ke SMA Kusuma Bangsa untuk menemui sepupunya itu. ditengah pelariannya, ia melihat layar jam tangannya yang menunjukan sudut 90o, ‘jam 3, kemungkinan besar Yoshua masih disekolah. Biasanya dia latian basket jam segini.’ Benak Aribi. Ketika Aribi telah berada di depan pintu gerbang sekolah, dia melihat Kana yang sedang asyik dengan handphonenya. Kemudian terlintas difikiran Aribi untuk mengajak Kana ke SMA Kusuma Bangsa agar dapat memperjelas keadaan yang sebenarnya.
“Kan, temenin gue yok !” ajak Aribi.
“Kemana ?” Tanya Kana yang terkejut dengan kedatangan Aribi yang terkesan tiba-tiba.
“Kusuma Bangsa.” Tanpa menunggu jawaban Kana, Aribi langsung menarik tangan Kana. Kanapun tak berdaya dan hanya mengikuti larian Aribi tersebut. Dua menit kemudian mereka telah sampai didepan gerbang Kusuma Bangsa. Aribi masih saja berlari dan masih saja menarik lengan Kana, hingga mereka berada di lapangan basket tersebut. Tampak yoshua yang mengenakan kaos abu-abu dengan celana basket berlabel KB hendak memasukan bola ke ring basket tapi sayang bola itu meleset. Melihat itu, Aribi hanya duduk di tepi lapangan dan menunggu sepupunya itu istirahat sejenak. Kana pun berjalan-jalan mengitari Kusuma Bangsa. Ia melangkah mengikuti kemana kakinya ingin melangkah, ia berjalan tanpa arah yang dikehendakinya. Semua terjadi diluar kesadarannya. Hingga kakinya pun terhenti disuatu sudut ruang. Ruang yang mungkin saja sudah cukup jauh jaraknya dari lapangan tadi. Yang ada dipikirannya sekarang hanya alunan merdu melodi demi melodi yang seakan sedang berbahagia, atau mungkin bersedih, tidak jelas jenis musik apa yang dimainkan. Kana pun memperhatikan sekitar mencari sumber suara itu, ia menyusuri lorong-lorong sekolah tersebut, semakin lama, semakin jelas terasa nuansa indah itu. Kini yang tampak dihadapannya ialah punggung seorang anak lelaki yang duduk menghadap indahnya perpaduan antara pemandangan awan, langit, dan pohon-pohon hijau yang menyejukan mata dan pikiran. Baru jelas kini musik apa yang ia mainkan, alunan nada-nada sedih yang ia tiupkan pada harmonica tangannya dengan penuh perasaan, dapat terlukiskan perasaannya melalui musik haru-biru yang kian mengharukan. Menyadari ada yang memperhatikannya dari belakang, ia pun menghentikan permainan nadanya dan mendengus kesal.
“loh kok berhenti ?” Kana bertanya dengan polosnya.
Dan lelaki itu tetap saja diam.
“sorry, apa gue ganggu elo? Oke, gue pergi silahkan lanjutkan kembali, maafin gue.”
Lelaki itupun menolehkan pandangannya ke belakang dan pergi meninggalkan tempat itu seketika. Merasa mengenali wajah tak asing itu, Kanapun mengerjarnya, demi mencaritahu siapa dia? Sikap yang acuh, pandangan yang dingin. Mengisyaratkan cowok yang arogan dan tidak mau mengenal makhluk bumi. Dan seketika juga kana memanggilnya…
“Kana … !!”
Lelaki itupun terdiam sejenak, berhenti dari pelariannya, memandang tajam ke arah Kana dan melanjutkan langkahnya yang semakin lebar dan cepat, membuatnya semakin menjauh dengan Kana. Kana tak habis fakir, baginya, itulah Kana Aprilio yang selama ini berhubungan jauh dengannya, yang selalu ada dipikirannya, yang mengisi lamunannya, yang mendatangi mimpinya, dan yang menghiasi hari-harinya. Tapi kenapa dia begitu dingin ? tak berbicara kepadanya, tak menjawab pertanyaannya, tak mengubris kehadirannya, meninggalkannya seorang diri dan pergi menjauh. Kanapun pergi kembali ke lapangan basket. Semetara itu dilapangan basket, Aribi sedang berbicara dengan Yoshua.
“ini . loe liat tempat ini. Ini tempat yang waktu itu kita datengin kan ? loe pernah ngajak gue kesini kan?” Tanya Aribi sambil memperlihatkan foto di handphonenya tersebut.
“yyaa, dan kenapa intonasi loe seheboh itu ?” Tanya Yoshua.
“loe mesti antar gue kesana sekarang.” Aribi berjalan dengan menarik lengan Yoshua, tetapi jalannya terhenti, yoshua tetap berdiri ditempatnya. Tak disangka ternyata yoshua lebih berat dari yang Aribi kira.”
“gue ga bisa.” Jawab yoshua datar.
“kenapa ga bisa?” Tanya Aribi meninggi.
“well, pertama, gue lagi latian, kedua, bangunan itu udah ga ada !” jawab Yoshua.
“Apa maksud lo udah ga ada ?”
“ya, bangunan itu sudah hancur karna gempa besar bulan kemaren.” Cerita Yoshua.
Aribi terdiam dan bertanya lagi . “apa loe kenal anak sekolah sini yang bernama Kana aprilio?”

Yoshua mengerutkan kening mencoba berfikir.
“hmm, kayanya nama itu ga asing, gue sering denger akhir-akhir ini. Coba deh lo Tanya sama Bagas.” Yoshua lalu menunjuk temannya yang berkepala plontos yang sedang meneguk air minumnya ditepi lapangan.
“apa itu lawakan ? gue bahkan ga kenal sama dia.”
“haha, oke, kalau gitu.” Yoshua melangkahkan kaki diikuti Aribi dibelakangnya dan ternyata arahnya menuju ke Bagas.
“Gas, nih sepupu gue dari tadi mau kenalan gitu sama loe, tapi malu-malu.” Ujar Yoshua. Sontak Aribi menginjak kaki Yoshua dan membisikinya “gue kan ga ada bilang kaya gitu!”. Bagas kemudian berdiri dan menawarkan telapak tangan besarnya dan berkata “Bagas.”
“eh, iya Aribi” Ujar Aribi salah tingkah sambil menyalimi Bagas.
“DUOR !” teriak Yoshua mengejutkan, menyadarkan Aribi bahwa masih ada si suara sumbang diantara mereka.
“eh Gas, ini si Aribi nanya, loe kenal anak yang namanya Kana ga ? gue ga tahu, gue kan ga tralu kenal semua anak sini. Tanya Yoshua kepada Bagas.
“Kana ? itukan yang bulan kemaren jadi headline mading sekolah. Korban dari reruntuhan bangunan akibat gempa bulan kemaren.”
Seolah tersambar petir Aribi tak habis pikir, segala macam pertanyaan mengantri diotaknya. “maa-maksud loo-e, di-dia sudah mati ? bu-bulan kemaren?” dengan terbata-bata satu dari antrian panjang pertanyan Aribi terlontar. Yoshuapun meninggalkan mereka agar mereka dapat lebih leluasa untuk berbincang.
“ya, tepat. Loe tahu darimana soal ini?”
Aribi tidak menjawab pertanyaan tersebut melainkan ia mengeluarkan handphonenya. “Loe tahu tempat ini?” Aribi menunjukan foto bangunan tua itu.
“Ini tempat dimana Kana menghabiskan waktu terakhirnya.” Jawab Bagas.
“Bisa antar gue kesini ?” Tanya Aribi. “Sekarang !” lanjutnya.
“sekarang ? tentu saja… tidak. Hei bagaimana dengan Minggu pagi ? udara pagi sangat sehat untuk pernapasan bukan?” ajak Bagas. Pandangan Aribi terlempar ke belakang Bagas. Dilihatnya Kana yang sedang menuju kearah dimana ia berada sekarang.
“Bi, cabut yok.” Ajak kana yanunggu loe dig sudah tampak letih.
“ oke, minggu pagi gue tunggu loe disini.” Ucap Aribi beranjak meninggalkan Bagas. Bagaspun membalas dengan senyuman manisnya kepada Aribi dan Kana. Kana yang melihatnya lalu tersenyum pula.
“Gebetan Baru?” Goda Kana setelah mereka meninggalkan Bagas. Aribi mengangkat bahu sambil tersenyum malu.

*****
(TO BE CONTINUE )

Sunday, January 17, 2010

waktu berlalu, banyak hal telah terjadi .
hhaa, many people made me shiny and geer now .
that's just my feeling or right ??
usually, i can read person from his deportment. so, wajarlah kalo gue rada geer .

Friday, December 25, 2009

kyakyakya...
hi guys, i'm so excited, i'm so Happy, and i'm so NERVOUS  finally, he reply my comments, so , maybe my dreaming can be real? of course my dreaming which can chatting with him, hhaa.
i'm afraid if i will make mistakes.  hhuu.
so careful to speak .
I was read the prince charming ’s note in facebook, its from one of song. Like as :

KISAH AKU
Wed at 5:53pm
Uploaded via Ini kisah tentang aku
Yang cintanya kandas slalu
Kepada para pencinta
Dengar laguku

Apa ku tak pantas dicinta
Apakah diri ini tak layak mencinta
Apakah memang tak ada cinta untuk diriku ini

Perjalanan cinta ini
Akan terus ku lewati
Duhai kau para pencinta
Dengarkan aku

Apa ku tak pantas dicinta
Apakah diri ini tak layak mencinta
Apakah memang tak ada cinta untuk diriku ini

Sudahlah,biarkanlah
Kisah ini hanya untuk aku


Oouuhh,, so, sad. I wanna say many words to him, but I can’t. I really wanna be closer with him, can chatting with him, can, ouh, that’s can be real or not.
I just can hope, hope, and hope. But, I commented that’s not, just emotion, I don’t know what he will reply that. I hope so.

Did you know ? I’m always paying attention to you, aih I don’t know, how way to show to you.

nyaman disekolahku dan tidak berniat pindah

terasa terangkat bebanku setelah menyelesaikan hari-hariku lalu. ulangan semester yang begitu menekan, well, finally, semest 1 is the end. ga terasa akhirnya sudah setengah tahun aku menjalani hari-hari di sekolah itu. sekolah yang awalnya tidak aku inginkan, hanya sebagai tempat penampunganku dan berniat pindah setelah selesai semester awal ini. but, niat itu mungkin sudah hilang sekarang. because i feel comfortable in here.i have friends, i am knowed teacher, i have prince charming, hhii. maybe my school, not so popular, not so famous, but, i like that. and my friend said, in her school, she don't comfort at there. and she want move to my school. hha, maybe that's impossible. cause her school is popular school !
by the way, what is the true choice ? canceling my first plan. and stay in here.
maybe much matter which I can get here. like as,, something better than another place. but, my mom, always suggest me to move, to move, and move. and then, i told to him what i wanna stay. this is better tahn other.